Mengimplementasikan Kesetaraan Gender melalui Program Kultum oleh Murid Perempuan di MAN 4 Bantul

Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) di lingkungan pendidikan dapat diwujudkan melalui berbagai praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Salah satunya dilakukan oleh MAN 4 Bantul melalui kegiatan kultum yang dilaksanakan secara rutin setelah salat Dhuhur berjamaah.

Kegiatan kultum tersebut dilaksanakan secara bergilir oleh setiap kelas berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. Menariknya, kegiatan ini tidak lagi didominasi oleh murid laki-laki. Murid perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi pengisi kultum dan menyampaikan pesan keagamaan di hadapan warga sekolah.

Sebelumnya, kegiatan kultum di MAN 4 Bantul lebih sering diisi oleh murid laki-laki. Seiring dengan pelaksanaan sistem giliran kelas, kesempatan untuk tampil kemudian diberikan secara lebih merata kepada murid laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, penentuan pengisi kultum tidak lagi didasarkan pada gender, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab kelas yang mendapat giliran.

Keterlibatan murid perempuan dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ruang keagamaan di sekolah juga dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai kesetaraan. Murid perempuan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum, menyampaikan gagasan, sekaligus mengambil peran dalam kegiatan bersama di lingkungan sekolah.

Selain mendukung kesetaraan partisipasi, kegiatan kultum juga memiliki nilai pendidikan yang lebih luas. Murid belajar mempersiapkan materi, menyusun pesan yang akan disampaikan, berbicara di hadapan audiens, serta mempertanggungjawabkan peran yang diberikan. Proses tersebut menjadi bagian dari pengembangan keterampilan komunikasi, keberanian, kepercayaan diri, dan tanggung jawab.

Bagi murid perempuan, kesempatan untuk tampil di ruang publik sekolah juga dapat menjadi pengalaman penting dalam membangun kepercayaan diri dan kapasitas kepemimpinan. Kehadiran mereka sebagai pengisi kultum memperlihatkan bahwa partisipasi dalam kegiatan sekolah dapat dibangun berdasarkan kesempatan dan kemampuan, bukan berdasarkan pembagian peran yang semata-mata ditentukan oleh gender.

Praktik di MAN 4 Bantul tersebut menunjukkan bahwa implementasi SDGs di satuan pendidikan tidak selalu harus diwujudkan melalui program khusus yang berdiri sendiri. Nilai-nilai SDGs dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan rutin sekolah, termasuk kegiatan keagamaan.

Melalui pembagian kesempatan yang setara dalam kultum, sekolah menghadirkan pengalaman langsung mengenai nilai kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari. Murid laki-laki dan perempuan sama-sama memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi, belajar, menyampaikan gagasan, dan menjalankan tanggung jawab di ruang publik sekolah.

Praktik tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya sekolah sebagai ruang pembentukan budaya yang mendukung kesetaraan. Praktik tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi SDG 5 tentang Kesetaraan Gender (Gender Equality), khususnya dalam memberikan kesempatan partisipasi yang setara bagi murid tanpa membedakan jenis kelamin. Kesetaraan dalam konteks pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap pembelajaran, tetapi juga mencakup kesempatan untuk berpartisipasi, mengambil peran, menyampaikan gagasan, dan tampil di ruang publik sekolah.

Dengan demikian, kultum di MAN 4 Bantul tidak hanya menjadi bagian dari pembiasaan keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu praktik pendidikan yang mengintegrasikan nilai kesetaraan gender dalam kehidupan sekolah. Langkah sederhana tersebut dapat menjadi contoh bahwa pencapaian SDGs dapat dimulai dari perubahan praktik sehari-hari yang memberikan ruang partisipasi yang adil bagi seluruh peserta didik. (Bunga Auralia)