Belajar Konflik Sosial Makin Seru, Mahasiswa PK UNY Hadirkan ‘Sociology Bowling’ dari Botol Bekas

Pembelajaran Sosiologi tentang konflik sosial dikemas lebih interaktif melalui permainan “Sociology Bowling” yang memanfaatkan botol plastik bekas sebagai media pembelajaran. Inovasi tersebut diterapkan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Negeri Yogyakarta, Riska Yuniantari, bersama guru pengampu Supartiningsih, S.Pd., pada Senin (7/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak mempelajari materi konflik sosial melalui permainan bowling sederhana. Sepuluh botol plastik bekas minuman dimanfaatkan sebagai pin bowling dan dilengkapi dengan pertanyaan maupun istilah yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Pertanyaan yang diberikan mencakup berbagai topik, mulai dari penyebab dan dampak konflik sosial, tokoh serta teori konflik, hingga upaya penyelesaian konflik.

Siswa secara bergiliran melempar bola ke arah susunan pin. Setiap pin yang berhasil dijatuhkan membawa tantangan tersendiri. Siswa harus menjawab pertanyaan yang terdapat pada pin tersebut dengan berdiskusi bersama anggota kelompok. Dengan demikian, permainan tidak hanya menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir, berkomunikasi, dan bekerja sama.

Penggunaan permainan sebagai media pembelajaran menjadi salah satu alternatif untuk menghadirkan pembelajaran Sosiologi yang lebih partisipatif. Jika pembelajaran hanya mengandalkan ceramah, siswa berpotensi menjadi penerima informasi secara pasif. Melalui “Sociology Bowling”, siswa ditempatkan sebagai peserta aktif yang terlibat langsung dalam proses memahami dan mengonstruksi pengetahuan.

Unsur permainan dan kompetisi juga mendorong siswa untuk lebih berani mengemukakan pendapat. Pertanyaan yang diperoleh secara acak dari pin bowling membuat siswa perlu mengingat kembali konsep yang telah dipelajari, mendiskusikannya bersama kelompok, kemudian menyampaikan jawaban. Proses tersebut membuat materi konflik sosial tidak berhenti pada hafalan konsep, tetapi dipelajari melalui pengalaman belajar yang lebih aktif dan menyenangkan.

Inovasi ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas khususnya dalam menghadirkan pembelajaran yang inklusif, partisipatif, dan berpusat pada peserta didik. Serta mendukung pencapaian (SDG 12) yaitu Konsumsi & Produksi: Mengurangi sampah dan daur ulang melalui penggunaan kembali botol bekas. Permainan memberikan ruang bagi siswa dengan beragam kemampuan dan gaya belajar untuk terlibat dalam proses pembelajaran melalui aktivitas fisik, diskusi, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Permainan “Sociology Bowling” juga membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan. Botol plastik yang umumnya menjadi sampah dimanfaatkan kembali menjadi media pembelajaran sederhana dan fungsional. Pemanfaatan barang bekas tersebut menunjukkan kepada siswa bahwa kreativitas dapat menjadi bagian dari praktik keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan botol bekas sebagai pin bowling secara tidak langsung turut mengenalkan pentingnya prinsip guna ulang (reuse) dan pengurangan sampah plastik. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran tidak hanya mengembangkan pemahaman siswa terhadap materi Sosiologi, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, kemampuan berkolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus bertumpu pada teknologi canggih maupun media berbiaya tinggi. Benda sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi media pembelajaran yang menarik apabila dipadukan dengan kreativitas dan tujuan pembelajaran yang jelas.

Melalui “Sociology Bowling”, mahasiswa PK Pendidikan Sosiologi FISIP UNY berupaya menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan pengalaman siswa, menyenangkan, sekaligus bermakna. Dari botol plastik bekas dan permainan sederhana, ruang kelas dapat menjadi tempat bagi siswa untuk belajar Sosiologi sekaligus mengembangkan kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. (Riska Yuniantari)