Menembus Batas Hafalan: Sinergi PkM UNY dan MGMP Sleman Bedah Instrumen Asesmen Sosiologi Berbasis Deep Learning

Suasana ruang pertemuan di SMA Negeri 1 Seyegan pada Selasa (29/9/2026) merekam dinamika interaksi yang begitu hidup ketika 21 guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Kabupaten Sleman berkumpul bersama tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Melalui agenda “Penguatan Kapasitas Guru Sosiologi dalam Pengembangan Instrumen Asesmen Kognitif HOTS Berorientasi Pembelajaran Mendalam”, kedua belah pihak melebur dalam ruang diskusi yang menempatkan proses evaluasi tidak sekadar sebagai rutinitas administratif, melainkan sebuah arena kebudayaan untuk merajut kembali identitas profesional guru dalam menggeser paradigma ujian berorientasi hafalan menuju refleksi kognitif yang tajam dan bermakna.

Kehadiran Datu Jatmiko, M.A. selaku ketua tim PkM Departemen Pendidikan Sosiologi UNY bersama dengan Aris Martiana, M.Si., Dwi Agustina, M.A., dan Novita Sari, M.Pd. memantik lahirnya ruang dialog kritis mengenai keunikan Sosiologi sebagai ilmu yang menuntut kepekaan terhadap realitas sosial yang terus bergerak dinamis. Dalam artikulasi pemikirannya, asesmen kognitif berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) diposisikan sebagai media bernalar yang mengajak siswa menyelami fenomena masyarakat secara mendalam (deep learning), memahami struktur, serta membedah akar masalah sosial di sekitar mereka. Kegiatan dialektika ini membedah butir soal secara intensif, di mana para guru merekonstruksi narasi studi kasus dan data empiris kontemporer ke dalam bentuk kisi-kisi serta butir soal tingkat tinggi yang didampingi oleh tim PkM untuk menyelaraskan indikator kelayakan instrumen.

Seluruh rangkaian pengabdian kepada masyarakat tersebut ditutup dengan pengisian posttest oleh peserta yang menguji penguasaan materi konseptual hingga kecakapan praktis penulisan indikator HOTS. Instrumen evaluasi akhir ini tidak sekadar menjadi formalitas pengukur angka kuantitatif, melainkan pilar konfirmasi yang memetakan lonjakan pemahaman, ketajaman analisis, serta kesiapan teknis para guru dalam mentransformasi instrumen asesmen kognitif berorientasi deep learning di sekolah masing-masing. (Dwi A)