You are here
Eco Chamber dan Filter Bubble: Dampak Laten Kuasa Media di Era Digital
Primary tabs
Membaca berita merupakan bagian dari kebutuhan hidup manusia di era perkembangan informasi, baik pada media konvensional maupun media digital. Media Massa menjadi salah satu sumber terbesar dalam memberikan informasi mengenai berbagai realitas di seluruh dunia secara realtime. Media Massa berlomba-lomba memberitakan fenomena yang sedang hype, untuk menarik intensi yang besar dari audiens. Satu fakta, lokasi yang sama, aktor yang sama, akan menghasilkan judul dan sudut pandang yang berbeda pada masing-masing media massa. Diksi dalam judul berita bahkan dapat memberikan efek dan framing yang berbeda. Masing-masing media menuliskan fakta sesuai dengan sudut pandang dan tujuan yang ingin mereka capai.
Media tidak pernah benar-benar netral. Media memang menyebarkan informasi, tetapi sekaligus membentuk cara kita memahami dan melihat realitas. Karena itu, media adalah arena kekuasaan. Di dalamnya ada kuasa, wacana, dan representasi yang saling bekerja membentuk makna. Cara kerja media berkutat pada: berita apa yang dipilih, bagaimana suatu peristiwa dibingkai, dan siapa yang ditampilkan atau diabaikan.
Penjelasan mengenai bagaiman wacana, kekuasaan, dan representasi menjadi tema utama yang disampaikan oleh Medhy Aginta Hidayat, Ph.D. dalam kegiatan Eurasia Lecturer Series Vol. 2 Episode 2, yang diadakan pada hari Rabu, 18 Februari 2026 di Ruang Aula Pascasarjana FISIP Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan tahun ke-2 dari pelaksanaan Eurasia Lecturer Series yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Sosiologi FISIP UNY bekerja sama dengan Eurasia Foundation (from Asia), yang memiliki tema Media and Cultural Studies for Global Peace.
Pada kesempatan kali ini, mengundang narasumber dari Universitas Trunojoyo Madura yang banyak menulis buku tentang kajian sosiologi digital, yaitu Medhy Aginta Hidayat, Ph.D. Ia menjelaskan secara rinci bagaimana kuasa bukan hanya soal siapa yang memerintah, tetapi siapa yang mampu membuat orang lain setuju dan menganggap sesuatu sebagai hal yang “normal”, atau yang dalam kerangka Michel Foucault disebut sebagai Disciplinary Power. Beliau juga memberikan penekanan pada bagaimana era masyarakat digital menunjukkan kuasa, wacana, dan representasi melalui algoritma media sosial yang mengatur informasi apa yang kita lihat dan apa yang kita anggap penting. Suara siapa yang dibungkam dan suara siapa yang didengar.
Pada akhir pemaparannya, Mas Medhy memberikan reminder pada peserta Eurasia Lecturer Series, yang sebagian besar merupakan kelompok generasi Z, bahwa belajar kuasa dan wacana bukan agar kita membeci media, melainkan agar kita lebih bijak dan adil dalam menilai dan ikut menjaga ruang publik agar tetap sehat dan damai di tengah banyaknya perbedaan. (SGA)
Link Terkait
Sistem Informasi
Kontak Kami
Channel Dilogi
Podcast Dilogi
Copyright © 2026,















