Dari Gadget ke Metaverse: Prof. Hanafi Hussin Bahas Konsumsi Budaya Digital di Eurasia Lecturer Series Episode 11

Fenomena penggunaan gadget yang sangat masif hari ini, tidak hanya berdampak pada berdampak pada dinamika relasi sosial antar individu saja, melainkan berkembang membentuk indetitas hingga relasi global. Perkembangan digital juga berdampak pada dinamika konsumsi global yang semakin kompleks.

Paparan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hanafi Hussin dari Universiti Malaya, Malaysia, dalam kegiatan Eurasia Lecturer Series Episode 11 pada Rabu, 29 Mei 2026 di Aula IsDB Lantai 4 FISIP, yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Sosiologi FISIP Universitas Negeri Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Hanafi menjelaskan bahwa konsumsi budaya (cultural consumption) saat ini tidak lagi dapat dipisahkan dari konsumsi fisik, terutama melalui fenomena penggunaan gadget secara ekstrem di tengah kehidupan masyarakat digital. Menurutnya, individu pada era media digital bukan lagi sekadar konsumen pasif, melainkan aktor aktif yang turut membentuk arah budaya, identitas, hingga relasi global.

Ia menegaskan bahwa apa yang dikonsumsi masyarakat hari ini sejatinya merupakan hasil dari proses historis panjang warisan budaya masa lalu yang terus direproduksi dalam bentuk-bentuk baru. Transformasi teknologi digital telah mendorong perubahan besar dalam cara manusia memproduksi, mendistribusikan, dan memaknai budaya.

Prof. Hanafi juga menyoroti bagaimana kemudahan membangun brand digital dan marketplace telah menggeser orientasi komoditas dari yang semula bersifat fisik menjadi digital. Pergeseran tersebut kemudian melahirkan ruang sosial baru yang disebutnya sebagai “metaverse sosial,” yaitu ruang virtual tempat identitas, budaya, dan interaksi sosial dibangun melalui representasi digital.

Dalam kajian media dan budaya untuk perdamaian global, dunia virtual kini dipandang bukan sekadar ruang hiburan atau pelarian, melainkan telah menjadi salah satu pilar utama ekonomi global. Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan pemikiran Jean Baudrillard mengenai simulacra, di mana citra dan representasi suatu komoditas sering kali lebih penting dibanding realitas itu sendiri.

Fenomena “commodity as image” menjadi contoh nyata bagaimana estetika, citra diri, serta “skin economy” berkembang sebagai bentuk kerja baru atau aesthetic labor di era digital. Kondisi ini terlihat kuat pada generasi Gen Z yang tumbuh sebagai digital native dan sangat dekat dengan budaya virtual.

Meski demikian, Prof. Hanafi Hussin juga mengingatkan bahwa perkembangan konsumsi virtual menghadirkan berbagai tantangan sosial. Melalui studi kasus di Malaysia, ia menunjukkan adanya kompleksitas hubungan antara identitas, ekonomi digital, dan ketimpangan akses teknologi. Perbedaan kemampuan dalam mengakses serta memaknai teknologi digital dinilai dapat memunculkan bentuk-bentuk ketimpangan baru di masyarakat.

Kegiatan Eurasia Lecturer Series Episode 11 berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa dan dosen FISIP UNY. Diskusi yang berkembang menunjukkan pentingnya memahami budaya digital secara kritis, terutama dalam melihat bagaimana teknologi memengaruhi identitas, relasi sosial, dan masa depan masyarakat global. (SGA)