You are here
Strategi Media Massa Konvensional menghadapi Tuntutan Konvergensi Media
Primary tabs
Perkembangan masyarakat digital yang serba menerima informasi secara cepat lewat device cangih meninggalkan pertanyaan serius bagi media massa konvensional tentang Bagaimana nasib media massa cetak di saat kita semua menuntut kecepatan informasi dan teknologi? Apakah media akan bertahan dalam pergeseran makna konsumsi informasi dari konvensional menjadi konsumsi digital?
Diskusi ini disampaikan secara menarik oleh M. Pranasik Faihaan dari Deras Literasi Indonesia, pada kegiatan Eurasia Lecturer Series Vol.2 Episode 6, hari Rabu 11 Maret 2026 di Aula IsDB FISIP UNY.
Pada kesempatan tersebut, Mas Asik, panggilan akrab narasumber pada episode 6 ini mengajak peserta melihat bahwa industri media global telah mengalami transformasi, sebuah konvergensi media yang saat ini sudah berada di depan mata dan dapat digenggam dimana pun serta kapan pun. Sebagian besar masyarakat pastinya menyaksikan perubahan drastis media cetak seperti koran sdan majalah beralih menjadi portal daring. Mas Asik menambahkan bahwa media lain harus menghadapi kenyataan pergeseran media dari koran besar seperti Republika harus bertransformasi total menjadi portal daring. Dalam pergempuran era digital, media massa ikut bergeser demi mengikuti arus perkembangan salah satu contohnya adalah platform Hariane.com yang berusaha riding the wave dengan ikut memasuki lingkungan media sosial.
Melihat fakta sosial mengenai konsumsi masyarakat digital yang saat ini menerima semua informasi secara cepat, tanpa disadari posisi pers saat ini tergoyah dengan hadirnya anomali arus informasi akibat citizen journalism berperan sebagai aktor penyebar informasi sepanjang waktu. Perubahan ini juga mengubah peta ekonomi media. Jika dulu pengiklan harus mengantre untuk mendapatkan slot di koran, kini media yang harus proaktif mencari lowongan iklan atau membayar jasa pada platform. Karena iklan saat ini dinilai berdasarkan engagement dan brand awareness yang terukur secara instan dan diharapkan mengangkat derajat media secara langsung. Saat ini media digital menaikan engagement mengguankan konten kreatif yang mampu menghubungkan isu pemerintah (government issues) dengan bahasa publik yang relevan, sehingga saat pemerintah ingin bekerja sama dengan media secara fiskal menguntungkan bagi media untuk terafiliasi secara langsung dengan topik laris di media massa digital.
Posisi citizen journalism atau familiar dengan sebutan influencer memiliki banyak keuntungan dari sisi konsumsi masyarakat digital. Sering kali kita melihat kecepatan informasi yang disebarkan oleh seorang influencer lebih cepat diterima oleh masyarakat digital, salah satu contohnya adalah hilangnya esensi majalah atau tabloid bola fisik yang laris terjual sekarang lebih banyak menunggu informasi berita bola lewat influencer sepak bola. Berita digital milik influencer berkembang dengan cepat karena tidak melewati prosedur jurnalistik yang panjang sehingga perbedaan proses penyuntingan berita antara pers dengan citizen journalism menyebabkan fenomena anomali informasi digital dalam menentukan verifikasi informasi. Citizen journalism berkembang pada cara mereka menyebarkan informasi terkini secepat mungkin, sedangkan pers lebih eksklusif karena validasi informasi menempuh proses yang panjang. Namun, dalam dunia digital saat ini masing-masing aktor memiliki perannya masing-masing dalam membagikan informasi. Ketika sebuah informasi yang dibagikan secara cepat dan menggebu-gebu oleh influencer selaku citizen journalism dapat dijaring oleh pers untuk memvalidasi kejadian dan menjadikan informasi bersifat faktual.
Mas Asik juga menegaskan tantangan yang mungkin dihadapi para penggiat media, yaitu munculnya kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk membuat konten berita tertulis sejak 2019-2022. Hingga saat ini berbagai platform seperti Google berusaha untuk bergerak ke arah yang lebih humanis. Konten fabrikasi AI (Akal Imitasi) yang saat ini gencar digunakan dibatasi dalam hal media massa dengan adanya filter otoritas manusia dalam menilai rekam jejak penulis yang kredibel sehingga kualitas konten, khususnya informasi tetap terjaga.
Sebagai penutup Ma Asik mengungkapkan “When Content is a King, Literation is Always a Queen” tetap menjadi kunci yang harus dipegang oleh masyarakat digital sebagai pandangan kritis untuk mencerna media, bahwa secanggih apa pun teknologi media massa saat ini, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan fakta dan opini. Sehingga ekosistem digital tetap berkembang secara kreatif dan relevan di lingkungan masyarakat (Donya Gabriella)
Link Terkait
Sistem Informasi
Kontak Kami
Channel Dilogi
Podcast Dilogi
Copyright © 2026,















