Jalan Pulang Jurnalisme: Sebuah Transformasi Lanskap Media di Era Digital

Telah menjadi jurnalis sejak tahun 2014 di Tempo sekaligus menjadi Redaktur Pelaksana di Tayangan Bocor Alus Tempo, Raymundus Rikang Rinangga berkenan membagikan pengalamannya pada kegiatan Eurasia Lecturer Series Episode 9 pada Senin, 20 April 2026 yang dilaksanakan di Ruang Aula lantai 4 Gedung IsDB FISIP UNY. Rikang membagikan wawasan terkait dinamika dan tantangan lanskap media Indonesia di era digital.

Dalam pemaparannya, Rikang menjelaskan bahwa media Indonesia saat ini tengah mengalami transformasi besar seiring dengan pergeseran menuju era digital. Media cetak kian ditinggalkan, sementara masyarakat—terutama di wilayah urban—lebih mengandalkan platform online dan media sosial sebagai sumber informasi utama. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh pola konsumsi audiens yang semakin condong pada konten yang bersifat visual, cepat, dan interaktif.

Lebih lanjut, Rikang menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi industri media. Di antaranya adalah dominasi kepemilikan oleh konglomerasi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor media, model bisnis yang semakin usang, serta tekanan regulasi yang kerap berujung pada represi terhadap jurnalis. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri media tidak hanya berhadapan dengan disrupsi teknologi, tetapi juga persoalan struktural yang kompleks.

Meski demikian, Rikang menegaskan bahwa peluang tetap terbuka lebar. Perkembangan media digital dan meningkatnya minat terhadap konten audio visual menjadi ruang baru bagi inovasi. Selain itu, kemunculan media alternatif serta praktik jurnalisme warga turut memperluas partisipasi publik dalam produksi informasi, meskipun masih menghadapi tantangan dalam hal standar etika jurnalistik.

Di tengah situasi yang penuh disrupsi ini, Rikang menekankan pentingnya menjaga kualitas jurnalisme. Pada akhir sesi, Rikang menawarkan refleksi “Jalan Pulang Jurnalisme” sebagai counter untuk melawan kecepatan berita yang tidak jarang melampaui fakta dan realita yang terjadi. Ia menyebut bahwa kebutuhan terhadap jurnalisme berkualitas justru semakin tinggi, terutama melalui liputan investigatif, praktik pemeriksaan fakta, serta pendekatan jurnalisme konstruktif. Upaya-upaya ini dinilai krusial dalam menjaga kredibilitas media sekaligus memperkuat kepercayaan publik di era digital.

Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta, yang terdiri dari mahasiswa dan civitas akademika. Diskusi interaktif yang terjadi selama sesi tanya jawab menunjukkan tingginya ketertarikan terhadap isu media dan jurnalisme kontemporer. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih kritis terhadap perkembangan media sekaligus termotivasi untuk berkontribusi dalam praktik jurnalisme yang berkualitas. (SGA)