Virtual Korea dan Soft Power Gastronomi: Eurasia Lecturer Series #10 Hadirkan Dosen dari Auckland University, New Zealand

Eurasia Lecturer Series Episode 10 menghadirkan dosen dari Auckland University, New Zealand, pada Rabu, 22 April 2026. Changzoo Song Ph.D., menjelaskan tentang budaya Korea, gastronomi, dan soft power di era digital.

Dalam pemaparannya, Changzoo Song menjelaskan bahwa pengalaman masyarakat global kini semakin banyak dimediasi melalui teknologi digital. Generasi muda tidak lagi harus mengunjungi Korea Selatan secara langsung untuk mengenal budayanya, karena perjumpaan awal dengan Korea banyak terjadi melalui K-Pop, K-Drama, hingga produk budaya populer seperti makanan dan skincare. Fenomena tersebut menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu contoh paling nyata dari perjumpaan global berbasis media.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa transformasi Korea Selatan menjadi kekuatan budaya global merupakan perubahan yang sangat signifikan jika melihat sejarah negara tersebut yang pernah mengalami kemiskinan pascaperang. Namun, melalui perkembangan industri teknologi dan budaya populer, Korea Selatan berhasil membangun pengaruh global yang kuat. Popularitas berbagai konten Korea di platform digital seperti menunjukkan bahwa budaya tidak hanya berperan sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen soft power yang efektif dalam membangun citra negara di era digital.

Dalam sesi diskusi, Changzoo Song menyoroti gastronomi sebagai elemen penting dalam memperkuat daya tarik global Korea Selatan. Menurutnya, makanan khas Korea seperti tidak hanya dipahami sebagai konsumsi sehari-hari, tetapi juga sebagai representasi identitas, memori kolektif, dan nilai budaya masyarakat Korea. Gastronomi mampu membangun emosi serta rasa keterhubungan (belonging) di antara masyarakat global yang mengonsumsi dan mengenal budaya Korea melalui media digital.

Ia juga menjelaskan bahwa praktik gastronomi Korea, mulai dari tradisi makanan fermentasi, sistem makan bap–banchan–guk, hingga budaya makan bersama, menciptakan pengalaman sensori yang khas dan mudah dibagikan secara visual melalui media sosial. Melalui proses tersebut, terbentuk fenomena yang disebut sebagai “Virtual Korea,” yaitu kondisi ketika gastronomi, media, dan pasar saling terhubung dalam menyebarkan budaya Korea secara global.

Menurutnya, keberhasilan Korea Selatan dalam membangun soft power tidak dapat dilepaskan dari sinergi antara industri kreatif, dukungan negara, serta partisipasi aktif para penggemar budaya Korea di berbagai negara. Kombinasi tersebut menjadikan gastronomi bukan hanya bagian dari budaya konsumsi, tetapi juga bagian integral dari ekosistem soft power Korea yang bekerja secara lintas sektor dan terus berkembang di era digital.

Kegiatan Eurasia Lecturer Series Episode 10 berlangsung dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa dan peserta yang hadir. Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan tingginya minat terhadap kajian budaya populer, media digital, dan transformasi budaya global di era kontemporer. Program ini diharapkan dapat terus menjadi ruang akademik yang memperkaya perspektif mahasiswa dalam memahami dinamika sosial dan budaya global secara kritis dan interdisipliner. (SGA)