Atasi Stagnasi Keilmuan Guru Tim PkM UNY, UGM, dan MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta Gelar Pendampingan Kolaboratif bagi Guru

Guna meningkatkan relevansi pembelajaran Sosiologi sekaligus merespons dinamika sosial yang kian berkembang, program pendampingan bagi para pendidik resmi digelar melalui kolaborasi antara Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), serta MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta. Sesi pertama dari kegiatan berjudul “Pendampingan Kolaboratif Bagi Guru untuk Mengatasi Stagnasi Keilmuan dan Dekontekstualisasi Pembelajaran” ini sukses dilaksanakan pada Selasa, 21 Juli 2026, bertempat di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta.

Program pengabdian kepada masyarakat ini menghadirkan kerja sama yang erat antarlembaga. Tim PkM dari Departemen Pendidikan Sosiologi UNY terdiri dari Dr. Grendi Hendrastomo, Dr. Nur Endah Januarti, Nur Hidayah, M.Si., Sasiana Gilar Apriantika, M.A., Indra Rahayu Ningsih, M.Pd., dan Dwi Agustina, M.A. Sementara itu, kolaborasi bersama Departemen Sosiologi UGM diperkuat melalui kehadiran Prof. Dr. Heru Nugroho yang untuk memberikan pengayaan perspektif sosiologis pada sesi perdana tersebut.

Dalam sesi pertama ini, pembahasan berfokus pada tema “Mengajar Sosiologi di Era Konvergensi: Kontekstualisasi Habitus Sosial dalam Pembelajaran Sosiologi”. Melalui pemaparan mendalam dari Prof. Dr. Heru Nugroho, para peserta diajak membedah tantangan pengajaran di era konvergensi media dan teknologi, di mana habitus sosial siswa mengalami pergeseran sangat cepat. Penekanan materi diarahkan pada pentingnya menjembatani konsep-konsep sosiologi yang abstrak dengan fenomena nyata di lapangan, sehingga pembelajaran terhindar dari dekontekstualisasi dan para pendidik terbebas dari stagnasi keilmuan.

Kegiatan ini disambut antusias oleh 36 guru Sosiologi yang tergabung dalam MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta. Para peserta tidak hanya menyimak paparan teoretis, tetapi juga terlibat aktif dalam ruang diskusi interaktif untuk merumuskan strategi pedagogi kritis yang kontekstual. Melalui pendampingan kolaboratif ini, para pendidik diharapkan mampu mentransformasikan ruang kelas menjadi wadah pembelajaran yang adaptif, reflektif, serta selalu relevan dengan realitas sosial peserta didik.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, para peserta dibekali penugasan mandiri untuk mengidentifikasi realitas sosial yang ada di sekitar siswa, mendeskripsikan fenomena tersebut sebagai kajian teori sosiologi, sekaligus merancang langkah-langkah aktivitas pembelajarannya. Hasil penugasan ini nantinya akan menjadi dasar utama untuk kegiatan pada sesi berikutnya, yang akan berfokus pada kontekstualisasi teori melalui kreasi media visual berupa komik sosiologi. Pada akhir sesi, program ini akan ditutup dengan kegiatan Showcase Media Pembelajaran yang akan diikuti oleh seluruh anggota MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta, mahasiswa, dan siswa SMA di Yogyakarta. (Dwi Agustina)