Refleksi Kritis Kajian Budaya dan Media: Menyusun Kembali Benang Merah untuk Literasi Media di Era Digital

Eurasia Lecturer Series Tahun 2026 secara resmi selesai pada pertemuan ke-17 pada Rabu, 03 Juni 2026. Rangkaian kegiatan Eurasia Lecturer Series ditutup dengan sebuah sesi refleksi akhir yang berlangsung interaktif dan penuh diskusi kritis. Sesi ini dibersamai oleh Dr. Grendi Hendrastomo dari Universitas Negeri Yogyakarta dengan merancang sesi sebagai ruang refleksi kolektif. Mahasiswa bersama-sama merangkum, mereview, dan mendiskusikan kembali berbagai konsep penting yang telah dipelajari, mulai dari akar sejarah lahirnya Kajian Budaya hingga berbagai tantangan media digital kontemporer. Melalui proses ini, mahasiswa diajak untuk melihat keterkaitan antar-topik dan memahami perkembangan kajian budaya serta media sebagai sebuah disiplin ilmu yang terus relevan dalam menjelaskan perubahan sosial di masyarakat.

Dalam refleksi tersebut, mahasiswa kembali menelusuri sejarah lahirnya Kajian Budaya dan Media di Inggris pada tahun 1964 melalui pendirian Center for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Universitas Birmingham. Kehadiran CCCS menjadi respons kritis terhadap industrialisasi dan berkembangnya budaya massa yang pada saat itu mengubah kehidupan masyarakat secara signifikan. Kajian Budaya kemudian menawarkan perspektif baru dengan menolak pandangan bahwa budaya hanya dimiliki oleh kelompok elite. Sebaliknya, budaya dipahami sebagai seluruh praktik kehidupan sehari-hari, termasuk budaya populer yang selama ini sering dianggap remeh.

Diskusi juga menyoroti bagaimana media tidak pernah hadir sebagai institusi yang sepenuhnya netral. Sepanjang semester, mahasiswa mempelajari bahwa media merupakan arena pertarungan ideologi dan hegemoni, tempat berbagai kepentingan sosial, politik, dan ekonomi saling berinteraksi. Melalui berbagai studi kasus, mahasiswa memahami bagaimana pemilik modal maupun kelompok penguasa dapat menggunakan media untuk mengonstruksi realitas sosial melalui proses pembingkaian berita (framing), pemilihan isu, hingga pembentukan opini publik.

Selain itu, perhatian khusus diberikan pada bagaimana media turut berperan dalam mereproduksi dan merekonstruksi stereotip gender di ruang publik. Berbagai representasi yang muncul dalam media sering kali tidak terlepas dari kepentingan ekonomi-politik kelompok dominan, sehingga penting bagi masyarakat untuk memiliki kemampuan membaca media secara kritis dan reflektif.

Memasuki pembahasan media kontemporer, refleksi akhir mengajak mahasiswa memahami perubahan besar yang terjadi pada lanskap media digital saat ini. Ekosistem media kini semakin digerakkan oleh algoritma yang bekerja di balik layar platform digital. Setiap aktivitas pengguna menghasilkan data yang kemudian digunakan untuk menentukan informasi apa yang akan muncul berikutnya di layar mereka. Kondisi ini menghadirkan tantangan baru terkait privasi, manipulasi informasi, hingga terbentuknya ruang gema (echo chamber) yang dapat mempersempit perspektif pengguna.

Dalam konteks Indonesia, mahasiswa juga merefleksikan perjalanan media pasca-Reformasi 1998 yang sempat ditandai dengan tumbuhnya berbagai media alternatif independen yang memberi ruang bagi isu-isu marginal dan kelompok yang selama ini kurang terwakili. Namun, perkembangan teknologi digital membawa perubahan yang sangat cepat. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah semakin berakhirnya era media cetak di berbagai daerah.

Kasus transformasi Harian Kedaulatan Rakyat (KR) di Yogyakarta menjadi salah satu contoh nyata yang dibahas dalam perkuliahan. Sebagai media cetak legendaris yang telah menjadi bagian penting dari sejarah pers Indonesia, KR menghadapi tantangan besar akibat migrasi pembaca ke platform digital, perubahan pola konsumsi informasi, serta pergeseran pasar iklan. Fenomena ini menunjukkan bahwa media tradisional harus terus beradaptasi agar mampu bertahan di tengah disrupsi teknologi yang semakin cepat.

Melalui seluruh rangkaian pembelajaran tersebut, Eurasia Lecturer Series menegaskan bahwa tujuan utama Kajian Budaya dan Media bukan sekadar memahami teori, melainkan mengembangkan kepekaan kritis mahasiswa terhadap berbagai praktik media yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Media, baik dalam bentuk surat kabar, televisi, media sosial, maupun berbagai aplikasi digital yang digunakan setiap hari, memiliki peran besar dalam membentuk cara masyarakat berpikir, merasa, dan bertindak.

Karena itu, kemampuan literasi media kritis menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi saat ini. Dengan memahami bagaimana relasi kuasa bekerja di balik produksi dan distribusi informasi, mahasiswa diharapkan mampu mempertahankan agensi atau kebebasan berpikir mereka sebagai warga yang aktif dan kritis, bukan sekadar konsumen informasi yang pasif.

Sebagai penutup rangkaian Eurasia Lecturer Series 2026, para dosen dan penyelenggara menyampaikan harapan agar seluruh mahasiswa terus mengembangkan semangat intelektual yang telah dibangun selama satu semester. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas, melainkan menjadi bekal untuk memahami berbagai persoalan sosial, budaya, dan media yang semakin kompleks di tingkat lokal maupun global.

Melalui tema besar “Media and Cultural Studies for Global Peace”, Eurasia Lecturer Series diharapkan dapat terus menjadi ruang pembelajaran lintas perspektif yang mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, terbuka, dan memiliki kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan. Di masa mendatang, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu menganalisis media dan budaya secara akademis, tetapi juga berkontribusi dalam membangun ruang publik yang lebih inklusif, demokratis, dan berorientasi pada perdamaian global. (SGA)