Perkuat Jejaring Akademik Global, Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi FISIP UNY Diundang Eurasia Convention Busan 2026 di Korea Selatan

Komitmen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam memperkuat jejaring akademik internasional kembali diwujudkan melalui partisipasi dosen Departemen Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), pada Eurasia Convention 2026 yang diselenggarakan di Busan, Korea Selatan, pada 3–5 Agustus 2026. Forum internasional tersebut mengangkat tema The Role of Education in the Age of Chaos: Hope for a New Era, yang membahas peran strategis pendidikan dalam menjawab berbagai tantangan global di tengah dinamika sosial, ekonomi, politik, dan perkembangan teknologi. Kegiatan ini merupakan kegiatan reguler dari Eurasia Foundation (from Asia), dan tahun ini berkolaborasi dengan Busan International Foreign Studies.

Pada kegiatan tersebut, Universitas Negeri Yogyakarta diwakili oleh 3 dosen dari Departemen Pendidikan Sosiologi FISIP, yaitu Dr. Grendi Hendrastomo, M.M., M.A., Dr. Nur Endah Januarti, M.A., dan Sasiana Gilar Apriantika, M.A. memperoleh undangan langsung dari Eurasia Foundation (from Asia). Kehadiran ketiga dosen tersebut merupakan bagian dari undangan khusus kepada perguruan tinggi yang pernah menerima hibah dari Eurasia Foundation (from Asia) sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam pengembangan kolaborasi pendidikan dan pertukaran akademik di tingkat internasional.

Program Eurasia Lecturer Series (ELS) di Universitas Negeri Yogyakarta memiliki kekhasan yang menarik, yaitu mengaloborasikan antara pengembangan pengetahuan di kelas dan pengalaman langsung di lapangan. Program diselenggarakan dengan mengangkat tema tentang Community Empowerment, dan di tahun selanjutnya mengusung tema Media and Cultural Studies. Dua tema ini sejalan dengan upaya untuk mengembangkan Critical Thingking dan kemampuan kolaborasi sebagai kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa pada abad 21 ini. Kedua topik tersebut menjadi relevan untuk mendukung pencapaian tema Eurasia Convention Busan yaitu The Role of Education in the Age of Chaos: Hope for a New Era.

Eurasia Convention 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, serta pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara, di antaranya Korea Selatan, Jepang, Spanyol, Thailand, Turki, Selandia Baru, Indonesia, Taiwan, Kamboja, Ukraina, Kazastan, Amerika Serikat, dan lainnya. Selama tiga hari penyelenggaraan, para peserta mengikuti seminar internasional, diskusi panel, forum kolaborasi, serta berbagai sesi akademik yang berfokus pada penguatan kerja sama pendidikan lintas negara dan pengembangan inovasi pembelajaran untuk menghadapi era yang penuh ketidakpastian.

Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, konvensi ini juga menjadi wadah strategis untuk memperluas jejaring riset internasional serta membangun peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, mobilitas akademik, dan pengembangan kapasitas institusi. Berbagai isu seperti transformasi pendidikan tinggi, kepemimpinan akademik, pendidikan berbasis teknologi, hingga penguatan kolaborasi global menjadi fokus pembahasan dalam forum tersebut.

Partisipasi UNY dalam Eurasia Convention merupakan langkah penting dalam memperkuat posisi universitas pada jejaring akademik internasional. Keikutsertaan dosen Departemen Pendidikan Sosiologi FISIP UNY juga mencerminkan upaya berkelanjutan dalam mendukung agenda internasionalisasi universitas. Melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum akademik internasional, dosen tidak hanya memperluas jejaring keilmuan, tetapi juga membawa perspektif Indonesia dalam diskursus global mengenai masa depan pendidikan.

Tujuan ini sebagaimana disampaikan oleh Dr. Nur Endah Januarti, sebagai salah satu perwakilan dari Universitas Negeri Yogyakarta dalam forum Eurasia Convention Busan “Salah satu yang menjadi tantangan bagi akademisi adalah bagaimana menjadikan Critical Thingking sebagai sarana untuk mengintegrasikan STEM dengan sosial humaniora sehingga menghasilkan keterampilan teknologi yang adaptif sekaligus kritis.”

Dr. Grendi Hendrastomo sebagai perwakilan dari Universitas Negeri Yogyakarta juga menambahkan konteks pembelajaran dalam pengembangan teknologi. “Gamifikasi menjadi salah satu metode pembelajaran yang bukan hanya bertujuan pada hasil, tapi menekankan pada proses pembelajaran yang dapat mewujudkan joyfull learning”, ungkapnya.

Partisipasi dalam forum Eurasia Convention ini sekaligus mempertegas komitmen Universitas Negeri Yogyakarta untuk terus membangun kemitraan strategis dengan berbagai perguruan tinggi dunia. Kolaborasi internasional yang terjalin diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan riset kolaboratif, serta penguatan reputasi UNY sebagai perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global.

Melalui keikutsertaan dalam Eurasia Convention 2026, UNY kembali menunjukkan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi dalam pengembangan pendidikan di tingkat internasional, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama yang mendukung terwujudnya visi universitas menuju World Class University. (Sasiana)