Peran Media sebagai Pembentuk Realitas Sosial di Era Digital

Rabu, 8 April 2026, Pendidikan Sosiologi FISIP UNY kembali menggelar kegiatan Eurasia Lecturer Series Episode 6 di Aula IsDB lantai 4. Kegiatan ini menghadirkan narasumber terkemuka, Heru Nugroho, Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada, yang membawakan materi mengenai Metodologi Kajian Budaya dan Media (KBM)

Dalam pemaparannya, Prof. Heru Nugroho menegaskan bahwa Kajian Budaya dan Media menjadi semakin relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Media, menurutnya, tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi telah bertransformasi menjadi aktor utama yang berperan dalam membentuk realitas sosial, identitas individu, hingga relasi kekuasaan di masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa tanpa pendekatan KBM, analisis sosiologi cenderung terjebak pada kerangka klasik seperti pemikiran Émile Durkheim atau Karl Marx, yang belum sepenuhnya mampu membaca kompleksitas perubahan dalam konteks digital. Saat ini, realitas sosial tidak hanya hadir secara alami, tetapi juga diproduksi melalui representasi media, algoritma, serta logika platform digital.

“Fenomena viral sering kali dianggap sebagai sesuatu yang penting atau benar, padahal bisa jadi merupakan hasil konstruksi yang dipengaruhi oleh kepentingan tertentu,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa media digital juga menjadi arena hegemoni baru, di mana kekuasaan bekerja secara subtil melalui algoritma yang mengatur visibilitas, preferensi, hingga selera budaya masyarakat.

Lebih lanjut, Prof. Heru menyoroti adanya paradoks dalam media digital. Di satu sisi, audiens tampak memiliki kebebasan untuk berpartisipasi dan memproduksi konten, namun di sisi lain, mereka tetap berada dalam batasan sistem yang telah dikurasi oleh platform digital. Hal ini menciptakan ketegangan antara kebebasan dan keteraturan dalam ekosistem media.

Dalam konteks kekinian, KBM juga dinilai penting untuk memahami berbagai fenomena baru seperti echo chamber, polarisasi sosial, budaya viral, hingga attention economy, di mana perhatian manusia menjadi komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, identitas individu kini bersifat semakin cair dan performatif, karena terus dibentuk dan dipentaskan melalui media sosial.

Secara metodologis, Kajian Budaya dan Media berakar pada tradisi cultural studies yang memandang realitas sebagai konstruksi sosial-kultural (ontologi), pengetahuan sebagai sesuatu yang interpretatif dan berkaitan dengan kekuasaan (epistemologi), serta penelitian sebagai upaya kritis untuk membongkar ideologi dan relasi dominasi (aksiologi). Pendekatan ini memanfaatkan berbagai metode seperti analisis wacana, semiotika, etnografi media, hingga analisis ekonomi politik.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan akademisi diharapkan dapat mengembangkan perspektif kritis dalam memahami media, sehingga tidak menjadi konsumen pasif dalam sistem yang sarat dengan kepentingan ekonomi dan ideologis. Kegiatan Eurasia Lecturer Series pun menjadi salah satu ruang strategis dalam memperkuat diskursus akademik lintas disiplin di era digital. (SGA)