Transformasi dan Konstruksi Realitas di Era Digital: Berbagi Pengalaman Indonesia dan Jepang

Eurasia Lecturer Series Vol. 2 telah memasuki episode ke-7 pada Rabu, 15 April 2026. Pada episode ini,  menghadirkan narasumber Ibu Dianni Risda dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang membawakan materi terkait transformasi digital dan dampaknya terhadap cara manusia memahami realitas sosial.

Dalam pemaparannya, Dianni Risda menekankan bahwa transformasi digital telah mengubah secara mendasar cara manusia mengalami dan memahami realitas. Jika sebelumnya realitas dipahami melalui pengalaman langsung, kini realitas banyak dimediasi oleh teknologi dan berbagai platform digital. Dalam masyarakat digital, interaksi sosial tidak lagi berlangsung secara tatap muka, melainkan melalui platform berbasis data yang memungkinkan setiap individu sekaligus menjadi produsen konten.

Ia menjelaskan bahwa media sosial saat ini telah menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Namun, informasi yang beredar tidak lagi bersifat netral. Arus informasi yang cepat, masif, dan tidak selalu terverifikasi kerap menimbulkan information overload. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan dalam memilah mana informasi yang benar dan mana yang bias, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu sensitif dan kontroversial.

Lebih lanjut, Dianni mengungkapkan bahwa realitas digital yang dikonsumsi masyarakat pada dasarnya merupakan hasil konstruksi dan representasi, bukan realitas yang utuh. Fenomena seperti filter bubble dan echo chamber mempersempit ruang informasi melalui mekanisme algoritma serta preferensi pengguna. Akibatnya, individu cenderung terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya, sehingga membentuk opini yang bersifat parsial.

Selain itu, Dianni juga memberikan gambaran bagaimana perkembangan realitas di Jepang, yang  tetap menekankan aspek budaya di tengah arus perkembangan informasi digital.  Dalam konteks geopolitik Eurasia, ia menambahkan bahwa konstruksi realitas tidak hanya dipengaruhi oleh logika pasar dan algoritma platform, tetapi juga oleh intervensi negara. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang relatif lebih terbuka, meskipun tetap memiliki kerentanan terhadap bias digital dan manipulasi informasi.

“Realitas yang kita pahami hari ini semakin bergantung pada sistem teknologi—mulai dari perilaku pengguna, data, hingga algoritma—yang pada akhirnya membentuk cara kita melihat dunia secara tidak sepenuhnya objektif,” jelasnya.

Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan. Diskusi interaktif yang terjadi menunjukkan tingginya ketertarikan terhadap isu transformasi digital, khususnya dalam perspektif sosiologi.

Melalui kegiatan Eurasia Lecturer Series, Pendidikan Sosiologi FISIP UNY terus berupaya menghadirkan ruang dialog akademik yang kritis dan kontekstual, sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap dinamika sosial di era global dan digital. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya pemikiran reflektif dan analitis dalam menyikapi berbagai fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. (SGA)