Bahasa sebagai Ruang Resistensi dan Jembatan Global

Bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk resistensi. Bahasa sebagai identitas pertama sebuah budaya, merupakan representasi paling mudah untuk mengenali nilai dan norma dari masyaratakat tersebut. Kalimat tersebut disampaikan oleh M. Mufti Rakadia dari Lingua Global Utama Indonesia, dalam kegiatan menyelenggarakan Eurasia Lecturer Series Vol. 2 Episode 8 pada Rabu, 15 April 2026 yang diselenggarakan oleh – Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dalam paparannya, Mufti menegaskan bahwa bahasa mampu membuka cara pandang baru serta memperluas pemikiran seseorang terhadap dunia. Ia menekankan bahwa semakin banyak bahasa yang dipelajari, semakin luas pula perspektif individu dalam memahami realitas sosial yang beragam.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembelajaran bahasa tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya. Bahasa selalu mengandung nilai, norma, dan makna yang berasal dari masyarakat penuturnya. Oleh karena itu, belajar bahasa tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian sertifikat atau kesempurnaan tata bahasa, melainkan pada kemampuan menangkap nuansa atau feeling dalam berkomunikasi agar interaksi menjadi lebih hidup dan bermakna.

“Bahasa bukan sekadar struktur, tetapi juga rasa. Ketika kita memahami nuansa dalam bahasa, kita sebenarnya sedang memahami cara berpikir dan cara hidup orang lain,” ungkapnya dalam sesi pemaparan.

Lebih lanjut, dalam konteks global, bahasa dipandang sebagai jembatan yang mendorong individu untuk keluar dari zona nyaman dan terhubung dengan berbagai latar belakang budaya. Hal ini dinilai sejalan dengan semangat Eurasia Foundation yang berupaya membangun jejaring lintas negara guna menciptakan perdamaian dunia serta mengurangi sekat-sekat kepentingan antarbangsa.

Mufti Rakadia menegaskan bahwa melalui bahasa, hubungan antarbangsa dapat dibangun secara lebih harmonis, tidak hanya di kawasan Asia tetapi juga dalam lingkup global yang lebih luas. Bahasa menjadi sarana penting dalam menciptakan dialog, saling pengertian, dan kolaborasi lintas budaya.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen dengan antusiasme tinggi. Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan ketertarikan peserta terhadap isu bahasa, budaya, dan globalisasi dalam perspektif sosiologi. (SGA)